JK Soroti Jutaan Sarjana Sulit Dapat Kerja, Pendidikan Diminta Tak Sekadar Kejar Ijazah

JK Soroti Jutaan Sarjana Sulit Dapat Kerja, Pendidikan Diminta Tak Sekadar Kejar Ijazah
Istimewa

LOSARIPOST.com - Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI, Jusuf Kalla (JK), menilai sistem pendidikan Indonesia perlu berbenah agar lulusan perguruan tinggi tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki keterampilan yang dibutuhkan dunia kerja.

JK menyoroti masih banyak lulusan sarjana yang harus menunggu hingga bertahun-tahun sebelum mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan bidang pendidikannya.

Ia menyebut Indonesia menghasilkan sekitar satu juta sarjana setiap tahun dari sekitar 4.500 perguruan tinggi.

Namun, tidak seluruh lulusan tersebut mampu langsung masuk ke dunia kerja sesuai kompetensinya.

“Rata-rata sarjana itu baru mendapat pekerjaan sesuai dengan ijazahnya dua atau tiga tahun. Artinya, sekarang ini di Indonesia kurang lebih ada tiga juta sarjana yang menganggur,” kata JK dalam Global Islamic Holistic Education Summit (GIHES) 2026 di Jakarta Pusat, Sabtu 5 September 2026 malam.

Menurut JK, persoalan tersebut tidak semata-mata berkaitan dengan minimnya lapangan pekerjaan.

Ada persoalan lain yang perlu menjadi perhatian, yakni kemampuan lulusan menerapkan pengetahuan yang mereka peroleh selama berada di bangku kuliah.

JK menilai sebagian lulusan masih kuat dalam menguasai teori, tetapi belum cukup terlatih mengubah pengetahuan tersebut menjadi kemampuan praktis.

“Mungkin masih ingat rumus-rumus, tapi tidak bisa melaksanakannya,” ujarnya.

Karena itu, JK mendorong perubahan cara pandang dalam pendidikan.

Menurutnya, keberhasilan pendidikan tidak cukup diukur dari nilai akademik maupun kemampuan menghafal materi.

Pendidikan harus mampu membentuk manusia secara utuh, mulai dari kemampuan berpikir, karakter, hingga keterampilan bekerja.

JK memperkenalkan konsep three H, yakni head, heart, dan hand.

Head berkaitan dengan kemampuan berpikir dan kecerdasan, heart menyangkut akhlak serta karakter, sedangkan hand menggambarkan kemampuan untuk bekerja dan menerapkan ilmu.

“Itulah pendidikan holistik, seutuhnya,” kata JK.

Ia juga mengingatkan agar kecerdasan tidak disamakan dengan sekadar kepintaran.

Kemampuan menghafal teori, menurutnya, harus diimbangi dengan logika, kreativitas, inovasi, serta kemampuan memecahkan persoalan nyata.

“Kita harus berbicara tentang logika, harus berbicara tentang inovasi. Jadi mungkin yang tepat kecerdasan, bukan kepintaran,” ujarnya.

JK berpandangan pendidikan harus mampu menghasilkan lulusan yang siap menghadapi perubahan dan kebutuhan dunia kerja.

Ijazah, kata dia, seharusnya menjadi salah satu bukti proses pendidikan, bukan satu-satunya modal untuk memasuki dunia profesional.

Ia pun mendorong seluruh pemangku kepentingan pendidikan untuk tidak berhenti pada wacana pembenahan.

Menurut JK, perubahan membutuhkan langkah nyata dari pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, pendidik, hingga masyarakat.

“Yang dibutuhkan ialah perubahan. Butuh suatu tindakan, bukan banyak pembicaraan, tetapi banyak tindakan di antara kita semua,” tegasnya.

Komentar

Nama Pengguna: Komentar...