LOSARIPOST.com – Penelitian terhadap manuskrip asli karya Syekh Yusuf Al-Makassari kembali membuka fakta sejarah mengenai silsilah ulama besar asal Sulawesi Selatan tersebut.
Berdasarkan tulisan tangan Syekh Yusuf, nama ayahnya tercatat sebagai Abdullah, sedangkan kakeknya bernama Abul Khair.
Temuan itu disampaikan Peneliti Manuskrip Nusantara, Prof. Dr. K.H. Ahmad Baso, saat menjadi pembicara dalam Dialog Budaya memperingati Haul 400 Tahun Syekh Yusuf Al-Makassari yang menjadi bagian dari Festival Aksara Lontaraq Vol. VII 2026 di Auditorium UIN Alauddin Makassar pada Kamis 9 Juli 2026.
Ahmad Baso menjelaskan, penelusuran sejarah Syekh Yusuf seharusnya mengacu pada sumber primer berupa manuskrip yang ditulis langsung oleh tokoh tersebut.
Menurutnya, sejumlah naskah asli masih tersimpan di berbagai perpustakaan dunia, di antaranya di Princeton University, Berlin, London, Paris, hingga Amerika Serikat.
Ia mengatakan, salah satu manuskrip koleksi Princeton University memuat identitas penulis yang ditulis langsung oleh Syekh Yusuf. Dari naskah itu diketahui silsilah keluarga yang menyebutkan "Yusuf bin Abdullah bin Abul Khair."
"Nama ayah Syekh Yusuf yang tertulis dalam manuskrip adalah Abdullah, sedangkan nama kakeknya Abul Khair. Informasi ini berasal langsung dari tulisan tangan beliau sendiri," ujar Ahmad Baso.
Menurutnya, keberadaan manuskrip tersebut penting untuk meluruskan berbagai perbedaan penyebutan nama keluarga Syekh Yusuf yang selama ini berkembang dalam sejumlah literatur maupun cerita yang beredar di masyarakat.
Ia menegaskan, apabila ingin mengetahui bagaimana Syekh Yusuf memperkenalkan asal-usul keluarganya, maka rujukan utamanya adalah manuskrip yang ditulis sendiri oleh sang ulama, bukan sekadar tradisi lisan atau penafsiran yang muncul belakangan.
Selain memuat informasi silsilah, manuskrip tersebut juga dinilai memiliki nilai sejarah yang tinggi karena merupakan salah satu karya ulama Nusantara tertua yang masih mempertahankan tulisan tangan asli.
Ahmad Baso menyebut naskah itu ditulis pada 1075 Hijriah atau sekitar 1664 Masehi.
Keaslian manuskrip, lanjutnya, diperkuat melalui proses mukabalah atau kolasi, yakni pencocokan dengan naskah lain oleh para ulama pada masa itu.
Berdasarkan hasil penelitiannya, manuskrip tersebut telah diverifikasi oleh sejumlah tokoh, di antaranya Syekh Abdul Rauf Singkil, Muhammad Said Al-Qauwani, dan Syekh Ahmad bin Al-Banna Ad-Dinyari.
Tak hanya itu, Ahmad Baso mengungkapkan masih terdapat manuskrip lain karya Syekh Yusuf yang kini menjadi koleksi Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.
Naskah yang berasal dari koleksi Banten tersebut diperkirakan ditulis di Aleppo, Suriah, sekitar 1665 Masehi, sehingga menjadi bukti perjalanan intelektual Syekh Yusuf saat menimba ilmu di Timur Tengah.
Ia berharap salinan maupun replika manuskrip-manuskrip tersebut dapat dihadirkan di Makassar agar masyarakat, akademisi, dan generasi muda memiliki akses terhadap warisan intelektual Syekh Yusuf Al-Makassari.
"Jika manuskrip aslinya tidak memungkinkan dibawa ke Makassar, setidaknya salinan atau replikanya bisa dihadirkan sebagai bahan pembelajaran dan penelitian bagi generasi mendatang," katanya.

Komentar
Nama Pengguna: Komentar...