Digitalpreneur ITB Nobel Indonesia, Mahasiswa Baru Dibekali Strategi Branding dan Pemasaran

Digitalpreneur ITB Nobel Indonesia, Mahasiswa Baru Dibekali Strategi Branding dan Pemasaran
Istimewa

LOSARIPOST.com – Pemahaman terhadap target pasar dan kebutuhan konsumen menjadi salah satu faktor penting dalam membangun bisnis yang mampu bersaing.

Hal tersebut menjadi materi utama dalam kegiatan Digitalpreneur yang diperuntukkan bagi mahasiswa baru Institut Teknologi dan Bisnis (ITB) Nobel Indonesia.

Kegiatan yang berlangsung di Nobel Convention Center, Jalan Sultan Alauddin, Rabu 14 Oktober 2026, menghadirkan sejumlah praktisi untuk berbagi pengalaman dan strategi dalam membangun merek, memahami perilaku konsumen, hingga mendorong penjualan.

Founder Tastea (Moovs), Muh. Rezky Adymulya, menjelaskan bahwa membangun sebuah merek atau brand tidak cukup hanya dengan menciptakan logo dan identitas visual. Menurutnya, merek terbentuk dari persepsi, pengalaman, dan emosi yang muncul di benak konsumen.

“Brand itu bukan hanya sebuah logo, brand lebih besar daripada itu. Brand tidak ada bentuknya karena hidup di masing-masing benak dan perasaan tiap orang. Logo hanya sarana untuk mengingat pengalaman konsumen,” ujar Rezky.

Ia menilai pemahaman mengenai konsep merek perlu menjadi landasan bagi mahasiswa yang ingin merintis usaha. Sebab, identitas bisnis tidak hanya ditentukan oleh tampilan produk, tetapi juga oleh pengalaman yang dirasakan pelanggan ketika berinteraksi dengan sebuah usaha.

Rezky mengatakan, branding yang dibangun secara tepat dapat membantu bisnis lebih mudah dikenali dan dipercaya konsumen. Hal tersebut juga berpengaruh terhadap kemampuan sebuah produk untuk tetap relevan di tengah persaingan pasar.

“Menjalankan bisnis itu bukan cuma belajar teori dulu baru mulai. Namun, namanya berbisnis, teman-teman tentu harus terus belajar dan menjadikan acuan membangun brand sebagai landasannya,” tambahnya.

Menurut Rezky, mahasiswa perlu memahami bahwa membangun bisnis merupakan proses berkelanjutan. Pelaku usaha harus terus belajar, mengenali perubahan kebutuhan konsumen, dan menyesuaikan strategi agar produk yang ditawarkan memiliki nilai di mata pelanggan.

Narasumber lainnya, Muh. Yusran Herman, membahas strategi pemasaran dari sisi pembentukan persepsi konsumen hingga teknik mendorong terjadinya transaksi.

Ia menjelaskan bahwa pemasaran tidak hanya berkaitan dengan memperkenalkan produk kepada masyarakat. Pelaku usaha juga perlu membangun citra yang sesuai dengan karakter konsumen yang menjadi sasaran.

Menurut Yusran, tampilan tempat usaha, penyajian produk, hingga kualitas pelayanan dapat memengaruhi cara konsumen menilai sebuah bisnis.

“Prosesnya itu adalah kita bangun dulu makna dan persepsinya orang. Kapan outlet kita rapi dan keren, persepsinya adalah produknya berkualitas atau konsumen mau terasosiasi sama citra keren tersebut,” kata Yusran.

Ia menambahkan, pengalaman konsumen ketika melihat dan mengunjungi sebuah tempat usaha dapat membentuk kesan terhadap produk yang ditawarkan. Karena itu, pelaku bisnis perlu memperhatikan berbagai aspek yang berpotensi memengaruhi penilaian pelanggan.

Selain membangun persepsi, Yusran juga menjelaskan pentingnya strategi penjualan untuk mengubah ketertarikan konsumen menjadi transaksi.

Salah satu strategi yang dapat digunakan adalah promosi berbatas waktu atau *flash sale*, baik melalui platform perdagangan elektronik maupun aplikasi pemesanan makanan.

“Tugas sales itu memancing orang untuk melakukan transaksi. Taktik seperti flash sale tujuannya menciptakan dorongan agar pembeli melakukan check out saat itu juga di rentang waktu tertentu,” ungkapnya.

Menurut Yusran, strategi tersebut dapat menciptakan dorongan bagi calon pembeli untuk segera menyelesaikan transaksi selama periode promosi berlangsung.

Meski demikian, pelaku usaha tetap perlu memahami karakteristik konsumennya agar strategi promosi yang diterapkan sesuai dengan kebutuhan pasar.

Dalam sesi tersebut, Yusran juga menekankan pentingnya menentukan target pasar sebelum menyusun strategi pemasaran. Menurutnya, produk yang baik belum tentu berhasil terjual apabila ditawarkan kepada konsumen yang tidak membutuhkan atau tidak sesuai dengan karakteristik produk tersebut.

Ia mengingatkan mahasiswa agar terlebih dahulu mengenali calon pembeli, kemudian menentukan pesan pemasaran dan solusi yang relevan dengan kebutuhan mereka.

“Kita tidak bisa menjual orang yang tidak butuh produk. Ketahui dulu sama siapa kita akan menjual, baru tentukan cerita dan solusi apa yang sesuai,” jelasnya.

Untuk menggambarkan pentingnya ketepatan sasaran, Yusran memberikan contoh penawaran mobil listrik kepada konsumen yang tinggal di rumah subsidi dengan kapasitas daya listrik yang belum memadai untuk pengisian daya kendaraan.

“Sama halnya menawarkan mobil listrik ke konsumen di rumah subsidi yang daya listriknya belum cukup untuk ngecas, tentu itu bukan solusinya,” tutupnya.

Melalui kegiatan Digitalpreneur ini, mahasiswa baru ITB Nobel Indonesia mendapatkan gambaran mengenai sejumlah aspek penting dalam membangun usaha, mulai dari pembentukan identitas merek, pemahaman perilaku konsumen, strategi promosi, hingga penentuan target pasar.

Komentar

Nama Pengguna: Komentar...