IAS Berharap Musda Golkar di 24 Kabupaten/Kota Berakhir Aklamasi

IAS Berharap Musda Golkar di 24 Kabupaten/Kota Berakhir Aklamasi
Istimewa

LOSARIPOST.com – Ketua DPD I Partai Golkar Sulawesi Selatan, Ilham Arief Sirajuddin (IAS), berharap pelaksanaan Musyawarah Daerah (Musda) Golkar di 24 kabupaten/kota se-Sulsel berlangsung kondusif dan menghasilkan kesepakatan bersama, termasuk melalui mekanisme aklamasi.

IAS menilai, dinamika dalam pemilihan ketua di tingkat daerah perlu dikelola melalui komunikasi dan pendekatan personal. Menurutnya, perbedaan dukungan tidak seharusnya berujung pada kekecewaan yang berpotensi memicu perpecahan di internal partai.

Ia menegaskan, Golkar tetap menjunjung tinggi prinsip demokrasi. Namun, proses demokrasi dalam organisasi tidak selalu harus berakhir dengan pemungutan suara apabila para pihak dapat mencapai kesepahaman.

“Kita berharap, karena Partai Golkar ini partai yang sangat menjunjung demokrasi. Tetapi demokrasi itu kan tidak harus selalu dilaksanakan dalam sebuah konsensus,” kata IAS saat menjelaskan harapannya terhadap pelaksanaan Musda Golkar di daerah, Selasa 20 Oktober 2026.

Menurut IAS, pendekatan komunikasi yang dilakukan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Golkar dapat menjadi salah satu rujukan dalam menyelesaikan dinamika internal. Para kandidat diharapkan duduk bersama untuk membicarakan kepentingan organisasi tanpa menciptakan ketegangan berkepanjangan.

“Politik ujungnya adalah kepentingan. Mari kita duduk sama-sama,” ujarnya.

IAS mengingatkan, persaingan yang tidak dikelola dengan baik dapat menimbulkan kekecewaan di kalangan kader. Situasi tersebut dikhawatirkan berdampak terhadap soliditas partai, termasuk mendorong sebagian kader memilih mundur atau berpindah ke organisasi politik lain.

Karena itu, ia menginginkan seluruh kader Golkar mampu menunjukkan kedewasaan dalam menghadapi proses pergantian kepemimpinan.

Konsolidasi organisasi, kata dia, seharusnya menjadi momentum memperkuat kebersamaan, bukan memperlebar perbedaan.

Selain mendorong penyelesaian dinamika melalui musyawarah, IAS menyampaikan bahwa DPD I Golkar Sulsel menargetkan seluruh Musda di 24 kabupaten/kota selesai pada Desember 2026.

Jadwal tersebut disusun untuk mengejar konsolidasi organisasi sesuai masa kepengurusan yang telah ditetapkan DPP. IAS menyebut kepengurusan Golkar Sulsel memiliki waktu kerja yang terbatas sehingga seluruh tahapan organisasi harus diselesaikan sesuai target.

Kabupaten Maros dijadwalkan menjadi daerah pertama yang menggelar Musda pada 2 November 2026. IAS menyebut persiapan di daerah tersebut telah berjalan dan belum menunjukkan dinamika yang berarti.

“Partai Golkar Sulawesi Selatan sudah mengagendakan Musda di kabupaten/kota harus berakhir di Desember 2026. Untuk itu kita akan mengawali Musda, insyaallah tanggal 2, Kabupaten Maros yang pertama yang sudah siap dan tidak ada dinamikanya,” jelasnya.

Setelah Musda tingkat kabupaten/kota selesai, DPD I Golkar Sulsel akan melanjutkan konsolidasi hingga tingkat kecamatan dan desa atau kelurahan.

Konsolidasi di tingkat kecamatan ditargetkan rampung pada April, sedangkan tingkat desa dan kelurahan diharapkan selesai pada Juli. Tahapan berikutnya akan diarahkan pada penguatan kapasitas kader sebagai persiapan menghadapi Pemilu 2029.

IAS menekankan, pembenahan struktur organisasi merupakan langkah awal yang harus dituntaskan sebelum partai memperluas agenda penguatan kader.

Dalam proses pemilihan ketua DPD II Golkar di daerah, IAS juga menyoroti pentingnya mempertimbangkan rekam kedekatan kandidat dengan masyarakat.

Ia mengatakan, dukungan pemilik suara tetap menjadi bagian dari mekanisme Musda. Namun, menurutnya, pertimbangan terhadap ketokohan dan potensi elektoral calon juga perlu diperhatikan agar kepemimpinan yang terpilih mampu menjalankan konsolidasi sekaligus memperkuat hubungan partai dengan masyarakat.

IAS menyebut pendekatan survei dapat digunakan untuk melihat tingkat kedekatan kandidat dengan masyarakat serta gambaran dukungan elektoral mereka.

“Selain dukungan, memang saya dalam melihat ketokohan untuk pimpinan di kabupaten itu melalui pendekatan survei. Sehingga orang yang terpilih betul-betul kalau dilihat dari pendekatan survei akan ketahuan bahwa memang dia tokoh yang punya kedekatan dengan masyarakat, punya tingkat elektoral yang cukup,” tuturnya.

Bagi IAS, rangkaian Musda di daerah bukan sekadar pergantian kepemimpinan. Proses tersebut menjadi bagian dari upaya menata kekuatan organisasi agar seluruh tingkatan kepengurusan siap menghadapi agenda politik berikutnya.

Dengan target Musda rampung pada akhir 2026, Golkar Sulsel berharap konsolidasi internal dapat berjalan sesuai jadwal, disertai penyelesaian perbedaan melalui komunikasi dan kesepakatan bersama.

Komentar

Nama Pengguna: Komentar...